1.
Pengertian
Pembaharuan
Pembaharuan menurut kamus Bahasa
Indonesia adalah proses, perbuatan, cara memperbaharui; proses mengembangkan
kebudayaan terutama dalam lapangan teknologi dan ekonomi.[1]
Yang dimaksud pembaharuan adalah proses mengubah masyarakat yang sebelumnya
bersikap statis menjadi dinamis.[2]
Muhammad Abduh sebagai seorang pembaru dalam pendidikan, ada
beberapa masalah yang ia temukan di lapangan yang menurutnya menyimpang dan
menjadi penyebab kemunduran umat islam, diantara masalah-masalah tersebut
adalah masalah kutikulum, metode mengajar, dan pendidikan wanita.
Muhammad Abduh lahir pada tahun
1884 M/ 1265 H disebuah desa di Propinsi Gharbiyyah Mesir Hilih. Ayahnya
bernama Muhammad Abduh ibn Hasan Khairullah. Abduh lahir di lingkungan keluarga
petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya
berasal dari Kota Mahllaj Nash. Situasi politik yang tidak stabil menyebab kan
orangtuanya berpindah-pindah, dan kembali ke Mahllaj Nash setelah situasi
politik mengizinkan. Muhammad Abduh adalh tokoh monumental dan paling
bersemangat melakukan pembaharuan bagi dunia islam.
Setelah warisan filsafat dan ilmu
pengetahuan islam diterima oleh bangsa Eropa dan umat Islam sudah tidak
memperhatikannya lagi. Dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan modern dari
barat, untuk pertama kali dunia islam di buka suatu percetakan di Istambul pada
tahun 1727 M, guna mencetak berbagai macam buku ilmu pengetahuan yang
diterjemahkan dari buku-buku ilmu pengetahuan barat. Di samping itu diadakan
ercetakan al-Quran, dan ilmu-ilmu Pengetahuan agama lainnya. Tetapi rupanya
tantangan dari pihak ulama dan golongan tentara sudah ada sebelumnya, yang
disebut pasukan Yaniseri, terlalu kuat sehingga usaha pembaharuan tersebut
tidak dapat berkembang.[3]
Penduduk Mesir oleh Napoleon
Bonaparte tahun 1798 M adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat islam untuk
mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan dan keterbelakanagan mereka.
Ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukan kebodohan mereka. Ekspedisi
napoleon tersebut disamping membawa sepasukan tentara yang kuat, juga membawa
sepasukan ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan
penelitian di mesir.
2.
Pola-pola
pembaharuan Pendidikan islam.
Dengan memperhatikan berbagai
macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana Nampak pada masa
sebelumnya, dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang
diilhami oleh bangsa-bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola
pemikiran pembaharuan pendidikan Islam adalah:
1.
Pola pembaharuan pendidikan Islam yang
berorientasi kepada pol a pendidikan Modren di Eropa.
2.
Pola berorientasi dan bertujuan untuk memurnikan
kembali ajaran Islam.
3.
Pola yang berorientasi pada kekayaan dan sumber
budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.[4]
a.
Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan
modern di Barat, pada dasarnya mereka
berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kejahatan hidup yang dialami oleh Barat
adalah sebagai hasil dari perkembagnan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai, mereka
juga berpendapat bahwa apa yang dicapai oleh bangsa-bangasa Barat sekarang tidak lain adalah merupakan pengembangan dari ilmu
pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam atas dasar
demikian, makauntuk mengemban kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan
dan kesejahteraan tersebut harus dikuasai kembali.[5]
Penguasaan
tersebut, harus melalui proses
pendidikan untuk itu harus meniru pole pendidikan yang dikembangkan oleh dunia
Barat, sebagaimana duu dunia Barat pernah meniru dan mengembangkan system
pendidikan dunia Islam. Dalam hal ini, usaha pembaharuan pendidikan Islam
adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah dengan pole barat, baik system
maupun isi pendidikannya. Disamping itu pengiriman pelajar-pelajar di dunia
Barat terutama ke Pracis untuk menguasai ileum pengetahuan dan teknologi modern
tersebut banyak dilakukan oleh penguasa-penguasa di berbagai negeri Islam.
b.
Gerakan pembaharuan oendidikan Islam yang
berorientasi pada sumber Islam yang murni. [pole ini berpandangan bahwa
sesungguhnay Islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan
kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Isalam
sendiri sudah penuh dengan ajaran-ajaran dan pada hakikatnya mengandug potensi
untuk membawa kemjuan dan kesejahteraan serta kekuatan bagi umat manusai. Dalam
hal ini Islam telah membuktikannya, pada masa-masa kejayaannya.[6]
Menurut analisah
mereka, diantarasebab-sebab kelemahan umat islam adalah, karena mereka tidak
lagi melaksankan ajaran agama Islam secara semestinya. Ajaran-ajaran Islam yang
menjadi sumber kemajuan dan kekuatan ditinggalkan dan menerima ajaran-ajaran
islam yang sudah tidak murni lagi. Hal tersebut terjadi setelah perkembangan
filsafat Ilsam, ditinggalkannya pola pemikiran rasional dan kehidupan umat
Islam telah diwarnai ileh pola hidup yang bersifat pasif. Dismping itu, dengan
perkembangan fiqh yang ditandai dengan penutupan pintu ijtihad, umat Islam
telah kekurangan daya kemampuannya untuk mengatasi problematika hidup yang
menantangnya sebagai akibat dari perubahan perkembangan zaman.
c.
Usaha pembaharuan pendidikan yang berorientasi
pada nasionalisme. Rasa nasionalisme timbul bersamaan degan berkembangnya pole
kehidupan modern, dan mulai dari Barat.
Bangsa-bangasa Barat mengalami kemajuan rasa nasionalisme yang
kemudian menimbulkan kekuatan-kekuatan politik yang berdiri sendiri, keadaan
tersebut mendorong pada umumnya bangsa Timur dan bangsa terjajah lainnya untuk
mengembangkan nasionalisme masing-masing.[7]
Umat islam mendapati kenyataan bahwa terdiri dari
berbagai bangsa yang berbeda latar belakang dan sejarah perkembangan
kedudukannya. Merekapun hidup bersama orang-orang yang beragama lain tapi
sebangsa. Inilah yang juga mendorong
perkembangannya rasa nasionalisme.
Keyakinan yang ada dikalangan pemikir-pemikir
pembaharuan dikalangan umat Islam, Bahwa pada hakikatnya ajaran Islam bias
diterapkan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat. Oleh karena itu, ide
pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme itupun bersesuaian dengan ajara
Islam.
Golongan nasionalisme, berusaha untuk memperbaiki
kehidupan unat Islam dengan emperhatikan situasi dan kkondisi objektif umat
Islam yang bersangkutan. Dalam usaha tersebut, bukan semata-mata mengambil
unsure-unsur budaya Barat, yang sudah maju, tetapi juga mengambil unsure-unsur
yang berasal dari budaya warisan bangsa yang berangkutan.
Untuk
mengimbangi serangan Kristen atas Islam, Muhammad Abduh berusaha mencoba
mendefenisikan kembali (redefenisi) ajaran Islam yang berbed denga Kristen.
Upaya ini merupakan kebenaran bukti penggunaan pendekatan apologinya. Muhammad
Abduh telah berhasil mengungkapkan delapan keunggulan Muhammad Abduh atas Kristen,
yaitu :
1.
Muhammad Abduh menegaskan bahwa meyakinkan
keesaan Allah dan membenarkan risalah Muhammad merupakan kebenaran inti ajaran
Islam.
2.
Kaum muslim sepakat bahwa akal dan wahyu
berjalan tidak saling bertentangan, karena keduanya berasal dari sumber yang
sama.
3.
Islam sangan terbuka atas berbagai interpensi.
Oleh karena itu, islam tidak memenarkan adanya saling mengafirkan di antara
kaum muslim.
4.
Islam tidak memnarkan seseorang menyerukan risalah Islam kepada orang lain,
kecuali dengan bukti.
5.
Islam diperintahkan untuk menumbngkan otoritas
agama, karena satu-satunya hubungan sejati adalah hubungan manusia dengan
Tuhannya secara lansung.
6.
Islam melindungi dakwah dan risalah, dan
menghentikan perpecahan dan fitnah.
7.
Islam adalah agama kasih saying, persahabatan,
dan mawuddah kepada orang yang berbeda doktrinnya.
8.
Islam
memadukan antara kesejahteraan dunia dan akhirat.[8]
Adapun pemikiran dan pembaharuan Muhammad Abduh dalam
pendidikan yaitu:
a.
Prufikasi
b.
Revormasi
c.
Pembelaan Islam
d.
Reformasi
Tujuan
pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas
kemungkinan seseorang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Di samping
pendidikan akal ia juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi
yang mampu berfikir dan punya kahlak yang mulia dan jiwa yang bersih. Tujuan
pendidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari
tingkat dasar sampai ke tingkat atas. Kurikulum tersebut adalah:
a.
Kurikulum al-Azhar, yaitu kurikulum tinggi
Al-Azhar disesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu.
b.
Tingkat Sekolah Dasar, baginya mata pelajaran
agama hendaknya dijadikan inti semua mata pelajaran.
c.
Tingkat Atas, dia menirikan sekolah menengah
pemerintahan untuk menghasilkan ajli dalam berbagai lapangan adimistrasi,
militer, kesehatan, prindustrian, dan sebagainya.
Di luar
pendidikan formal pun Abduh menekankan pentingnya akal dan mempelajari
ilmu-ilmu yang dating dari dunia Barat. Di samping itu Abduh pun menggalakkan
umat islam memperlajari ilmu-ilmu modern.
3 Pengaruh Pendidikan Barat
Terhadap Pendidikan Islam
Sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan
pendidian Islam yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengerjakan kekurangan dan
ketinggalan dari dunia barat dalam segala kehidupan, maka terdapat kecendrungan
adanya dualism dalam system pendidikan umat Islam. Usaha pendidikan modern yang
sebagaimana telah diuraikan yang berorientasi pada tiga pola pemikiran ( islam
murni, Barat dan Nasionalisme), membentuk suatu system atau pola pendidikan modern, yang mengambil pola system
pendidikan barat dengan penyesuaian-penyesuaian dengan Islam dan kepentingan
nasional. Dilain pihak system pendidikan tradisional yang telah ada dikalangan
umat Islam tetap dipertahankan.
[1] Departemen Pendidikan
Nasional, kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta
: Balai Pustaka)
[2] Samsul Nizar, sejarah Pendidikan Islam,( Jakarta :
Kencana,2007). H.239
[3] Zuhairini, dkk, sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2006) h.116
[4] Haruna Sution, Pembaharuan Dunia Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1982). H.17
[5] Ibidh.
[6] Ibidh
[7] Ibidh
[8] Samsul Nizar, Op. cit, h. 245-246
Tidak ada komentar:
Posting Komentar