*SATU UNTUK SEMUA*

SILAHKAN AMBIL YANG BAIK dan BERGUNA

Sabtu, 18 Februari 2012

MASA PEMBAHARUAN ISLAM



1.      Pengertian Pembaharuan
Pembaharuan menurut kamus Bahasa Indonesia adalah proses, perbuatan, cara memperbaharui; proses mengembangkan kebudayaan terutama dalam lapangan teknologi dan ekonomi.[1] Yang dimaksud pembaharuan adalah proses mengubah masyarakat yang sebelumnya bersikap statis menjadi dinamis.[2]
Muhammad Abduh  sebagai seorang pembaru dalam pendidikan, ada beberapa masalah yang ia temukan di lapangan yang menurutnya menyimpang dan menjadi penyebab kemunduran umat islam, diantara masalah-masalah tersebut adalah masalah kutikulum, metode mengajar, dan pendidikan wanita.
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1884 M/ 1265 H disebuah desa di Propinsi Gharbiyyah Mesir Hilih. Ayahnya bernama Muhammad Abduh ibn Hasan Khairullah. Abduh lahir di lingkungan keluarga petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari Kota Mahllaj Nash. Situasi politik yang tidak stabil menyebab kan orangtuanya berpindah-pindah, dan kembali ke Mahllaj Nash setelah situasi politik mengizinkan. Muhammad Abduh adalh tokoh monumental dan paling bersemangat melakukan pembaharuan bagi dunia islam.
Setelah warisan filsafat dan ilmu pengetahuan islam diterima oleh bangsa Eropa dan umat Islam sudah tidak memperhatikannya lagi. Dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan modern dari barat, untuk pertama kali dunia islam di buka suatu percetakan di Istambul pada tahun 1727 M, guna mencetak berbagai macam buku ilmu pengetahuan yang diterjemahkan dari buku-buku ilmu pengetahuan barat. Di samping itu diadakan ercetakan al-Quran, dan ilmu-ilmu Pengetahuan agama lainnya. Tetapi rupanya tantangan dari pihak ulama dan golongan tentara sudah ada sebelumnya, yang disebut pasukan Yaniseri, terlalu kuat sehingga usaha pembaharuan tersebut tidak dapat berkembang.[3]

Penduduk Mesir oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798 M adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan dan keterbelakanagan mereka. Ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukan kebodohan mereka. Ekspedisi napoleon tersebut disamping membawa sepasukan tentara yang kuat, juga membawa sepasukan ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian di mesir.
2.      Pola-pola pembaharuan Pendidikan islam.
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana Nampak pada masa sebelumnya, dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang diilhami oleh bangsa-bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam adalah:
1.      Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi kepada pol a pendidikan Modren di Eropa.
2.      Pola berorientasi dan bertujuan untuk memurnikan kembali ajaran Islam.
3.      Pola yang berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat nasionalisme.[4]
a.       Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern  di Barat, pada dasarnya mereka berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kejahatan hidup yang dialami oleh Barat adalah sebagai hasil dari perkembagnan ilmu pengetahuan  dan teknologi modern yang mereka capai, mereka juga berpendapat bahwa apa yang dicapai  oleh bangsa-bangasa Barat sekarang tidak  lain adalah merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam atas dasar demikian, makauntuk mengemban kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan dan kesejahteraan tersebut harus dikuasai kembali.[5]
Penguasaan tersebut, harus  melalui proses pendidikan untuk itu harus meniru pole pendidikan yang dikembangkan oleh dunia Barat, sebagaimana duu dunia Barat pernah meniru dan mengembangkan system pendidikan dunia Islam. Dalam hal ini, usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah dengan pole barat, baik system maupun isi pendidikannya. Disamping itu pengiriman pelajar-pelajar di dunia Barat terutama ke Pracis untuk menguasai ileum pengetahuan dan teknologi modern tersebut banyak dilakukan oleh penguasa-penguasa di berbagai negeri Islam.
b.      Gerakan pembaharuan oendidikan Islam yang berorientasi pada sumber Islam yang murni. [pole ini berpandangan bahwa sesungguhnay Islam sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dan ilmu pengetahuan modern. Isalam sendiri sudah penuh dengan ajaran-ajaran dan pada hakikatnya mengandug potensi untuk membawa kemjuan dan kesejahteraan serta kekuatan bagi umat manusai. Dalam hal ini Islam telah membuktikannya, pada masa-masa kejayaannya.[6]
Menurut analisah mereka, diantarasebab-sebab kelemahan umat islam adalah, karena mereka tidak lagi melaksankan ajaran agama Islam secara semestinya. Ajaran-ajaran Islam yang menjadi sumber kemajuan dan kekuatan ditinggalkan dan menerima ajaran-ajaran islam yang sudah tidak murni lagi. Hal tersebut terjadi setelah perkembangan filsafat Ilsam, ditinggalkannya pola pemikiran rasional dan kehidupan umat Islam telah diwarnai ileh pola hidup yang bersifat pasif. Dismping itu, dengan perkembangan fiqh yang ditandai dengan penutupan pintu ijtihad, umat Islam telah kekurangan daya kemampuannya untuk mengatasi problematika hidup yang menantangnya sebagai akibat dari perubahan perkembangan zaman.
c.       Usaha pembaharuan pendidikan yang berorientasi pada nasionalisme. Rasa nasionalisme timbul bersamaan degan berkembangnya pole kehidupan modern,  dan mulai dari Barat. Bangsa-bangasa  Barat  mengalami kemajuan rasa nasionalisme yang kemudian menimbulkan kekuatan-kekuatan politik yang berdiri sendiri, keadaan tersebut mendorong pada umumnya bangsa Timur dan bangsa terjajah lainnya untuk mengembangkan nasionalisme masing-masing.[7]
Umat islam mendapati kenyataan bahwa terdiri dari berbagai bangsa yang berbeda latar belakang dan sejarah perkembangan kedudukannya. Merekapun hidup bersama orang-orang yang beragama lain tapi sebangsa.  Inilah yang juga mendorong perkembangannya rasa nasionalisme.
Keyakinan yang ada dikalangan pemikir-pemikir pembaharuan dikalangan umat Islam, Bahwa pada hakikatnya ajaran Islam bias diterapkan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat. Oleh karena itu, ide pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme itupun bersesuaian dengan ajara Islam.
Golongan nasionalisme, berusaha untuk memperbaiki kehidupan unat Islam dengan emperhatikan situasi dan kkondisi objektif umat Islam yang bersangkutan. Dalam usaha tersebut, bukan semata-mata mengambil unsure-unsur budaya Barat, yang sudah maju, tetapi juga mengambil unsure-unsur yang berasal dari budaya warisan bangsa yang berangkutan.
Untuk mengimbangi serangan Kristen atas Islam, Muhammad Abduh berusaha mencoba mendefenisikan kembali (redefenisi) ajaran Islam yang berbed denga Kristen. Upaya ini merupakan kebenaran bukti penggunaan pendekatan apologinya. Muhammad Abduh telah berhasil mengungkapkan delapan keunggulan Muhammad Abduh atas Kristen, yaitu :
1.      Muhammad Abduh menegaskan bahwa meyakinkan keesaan Allah dan membenarkan risalah Muhammad merupakan kebenaran inti ajaran Islam.
2.      Kaum muslim sepakat bahwa akal dan wahyu berjalan tidak saling bertentangan, karena keduanya berasal dari sumber yang sama.
3.      Islam sangan terbuka atas berbagai interpensi. Oleh karena itu, islam tidak memenarkan adanya saling mengafirkan di antara kaum muslim.
4.      Islam tidak memnarkan seseorang  menyerukan risalah Islam kepada orang lain, kecuali dengan bukti.
5.      Islam diperintahkan untuk menumbngkan otoritas agama, karena satu-satunya hubungan sejati adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara lansung.
6.      Islam melindungi dakwah dan risalah, dan menghentikan perpecahan dan fitnah.
7.      Islam adalah agama kasih saying, persahabatan, dan mawuddah kepada orang yang berbeda doktrinnya.
8.      Islam  memadukan antara kesejahteraan dunia dan akhirat.[8]
Adapun pemikiran dan pembaharuan Muhammad Abduh dalam pendidikan yaitu:
a.       Prufikasi
b.      Revormasi
c.       Pembelaan Islam
d.      Reformasi 
Tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Di samping pendidikan akal ia juga mementingkan pendidikan spiritual agar lahir generasi yang mampu berfikir dan punya kahlak yang mulia dan jiwa yang bersih. Tujuan pendidikan yang demikian ia wujudkan dalam seperangkat kurikulum sejak dari tingkat dasar sampai ke tingkat atas. Kurikulum tersebut adalah:
a.       Kurikulum al-Azhar, yaitu kurikulum tinggi Al-Azhar disesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu.
b.      Tingkat Sekolah Dasar, baginya mata pelajaran agama hendaknya dijadikan inti semua mata pelajaran.
c.       Tingkat Atas, dia menirikan sekolah menengah pemerintahan untuk menghasilkan ajli dalam berbagai lapangan adimistrasi, militer, kesehatan, prindustrian, dan sebagainya.
Di luar pendidikan formal pun Abduh menekankan pentingnya akal dan mempelajari ilmu-ilmu yang dating dari dunia Barat. Di samping itu Abduh pun menggalakkan umat islam memperlajari ilmu-ilmu modern.
3  Pengaruh Pendidikan Barat Terhadap Pendidikan Islam
 Sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidian Islam yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengerjakan kekurangan dan ketinggalan dari dunia barat dalam segala kehidupan, maka terdapat kecendrungan adanya dualism dalam system pendidikan umat Islam. Usaha pendidikan modern yang sebagaimana telah diuraikan yang berorientasi pada tiga pola pemikiran ( islam murni, Barat dan Nasionalisme), membentuk suatu system atau pola  pendidikan modern, yang mengambil pola system pendidikan barat dengan penyesuaian-penyesuaian dengan Islam dan kepentingan nasional. Dilain pihak system pendidikan tradisional yang telah ada dikalangan umat Islam tetap dipertahankan.


[1] Departemen Pendidikan Nasional, kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka)
[2] Samsul Nizar, sejarah Pendidikan Islam,( Jakarta : Kencana,2007). H.239
[3] Zuhairini, dkk, sejarah Pendidikan Islam,  (Jakarta : Bumi Aksara, 2006) h.116
[4] Haruna Sution, Pembaharuan Dunia Islam,  (Jakarta : Bulan Bintang, 1982). H.17
[5] Ibidh.
[6] Ibidh
[7] Ibidh
[8] Samsul Nizar, Op. cit,  h. 245-246

Tidak ada komentar:

Posting Komentar